LPP Sugar Knowledge Center

Menuju Industri Gula Berdayasaing, Bermartabat, Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan.
 

dt approach 1Dalam proses perpindahan panas di pabrik gula, misalnya di Pemanas Pendahuluan (PP) atau Juice Heater (JH) maka akan terjadi proses perpindahan panas dari pemberi panas (donor) ke penerima panas (acceptor). Donor panas di pabrik gula bisanya berupa uap bekas, uap nira (uap bleeding) dan kondensat. Acceptor panas biasanya berupa nira mentah, nira encer, nira kental dan massecuite.

 

Pendorong terjadinya perpindahan panas didalam alat perpindahan panas adalah luas perpindahan panas dan selisih suhu antara donor-acceptor. Selisih suhu antara donor panas dan acceptor panas. Semakin besar selisih suhu antara donor dan acceptor maka semakin cepat proses perpindahan panas terjadi. Namun perlu diketahui, bahwa semakin besar selisih suhu akan mengakibatkan efisiensi perpindahan panas semakin kecil. Energi donor yang masuk kedalam alat perpindahan panas besar namun yang diserap oleh acceptor kecil.

 

Semakin kecil selisih suhu antara donor dan acceptor efisiensi perpindahan panas semakin bagus, namun membutuhkan luas perpindahan panas yang besar sekali. Luas perpindahan panas yang besar sekalli menjadi tidak feasible untuk operasional dan maintenance.

 

Pertanyaannya adalah berapa selisih suhu minimum yang bisa memberikan efisiensi energy terbaik dan luas perpindahan panas yang optimum dalam proses perpindahan panas di alat perpindahan panas pabrik gula.

 

Terkait dengan ini dikenal konsep ∆T approach minimum (∆Tapp. min). ∆T approach minimum merupakan selisih antara suhu donor masuk alat perpindahan panas dengan suhu acceptor keluar alat perpindahan panas yang memberikan perpindahan panas optimum.

 

Dirumuskan sbb:
dt approach 2[(∆Tapp. min) = Suhu Donor Panas Masuk – Suhu  Acceptor keluar]

 

Sebagai contoh untuk PP I ini:
[(∆Tapp. min) = 100-75=25 C ]

 

Nilai [∆Tapp. min] untuk berbagai donor panas berbeda beda, Hugot menyebtkan nilai [(∆Tapp. min) untuk uap bekas, uap nira I, nira II dan seterusnya sbb:

 

Nilai [∆Tapp. min] Uap bekas : 5-8 C,
Nilai [∆Tapp. min] Uap nira BP I : 10-12 C
Nilai [∆Tapp. min] Uap nira BP 2 dstnya : 15-20 C

 

Nilai [∆Tapp. min] sudah bisa memberikan panduan bagi kita untuk memilih donor panas tiap tiap alat perpindahan panas sesuai sasaran suhu acceptor yang akan keluar alat perpindahan panas.

 

Lavarack (2006) memberikan nilai [∆Tapp. min] untuk aplikasi di Pabrik Gula Australia sbb:

 

dt approach 3

 

Dengan data ini maka kita bisa mengoptimalkan fungsi evaporator sebagai donor panas untuk semua alat perpindahan panas yang ada di pabrik gula. Optimaliasi peran evaporator sebagai donor panas akan memberikan keuntungan berupa penurunan konsumsi uap di bagian pengolahan khususnya dan pabrik pada umumnya. Bukan tidak mungkin konsumsi uap%tebu akan menjadi dibawah 40% dengan optimaliasi evaporator sebagai penghasil donor panas untuk alat perpindahan panas di pabrik kita.

 

Selamat bereksplorasi! :)

 

Referensi:
[1] Hugot,E., 1986, Handbook of Cane Sugar Engineering, 3rd., Elsevier Publishing Company, Amsterdam
[2] Lavarack,B.P., 2006, “Application of Energy Integration Techniques (Pinch Technology) to Reduce Process Steam Consumption for Raw Sugar Factoies”, Proc.ASSCT, 28

The following two tabs change content below.

Daniyanto

Professional Staff Coordinator, Sugar Technologist at LPP Yogyakarta | Sugar Technology Division

Latest posts by Daniyanto (see all)

(komentar anda cermin pribadi anda, mari budayakan komentar dengan bahasa yang baik)
Untuk berdiskusi, tulis komentar dengan login di akun FB anda :

Categories

Web Stats


institutions and administrations