LPP Sugar Knowledge Center

Menuju Industri Gula Berdayasaing, Bermartabat, Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan.
 

Istilah MBS (Masak, Bersih dan Segar) seperti momok dalam musim giling tebu, berikutnya  memunculkan istilah ditolak, dibersihkan, diperingatkan, dipenalti dan yang terbaru diRafraksi Bobot  ! Pengertian MBS dalam implementasinya  sulit untuk di evaluasi karena datanya sering tidak dicatat secara akurat, sehingga memunculkan seolah-olah sekedar “jargon”,  retorika semata bahkan ekstrimnya “jarkoni – iso ujar ra iso nglakoni” !

 

bbt

 

Huruf M, memberi pengertian Masak (“mature, ripe”) – Matang, harapannya tebu sudah masak (sesuai dengan kemasakan optimalnya, Masak Awal – Masak Tengah atau Masak Lambat), berarti tanaman mampu memberikan hasil gula yang ideal untuk dipanen ! Uniknya, proses kemasakan tebu ini tidak bisa diamati “seketika”, tetapi melalui proses yang dipantau melalui parameter FK (Faktor Kemasakan), KDT (Koefisien Daya Tahan) dan KP (Koefisien Peningkatan), dan ini baru akan diperoleh secara cermat dari hasil Analisa Kemasakan (Analisa Pendahuluan), yang dilakukan sejak pemasangan dan pemilihan contoh batang tebu sampai saat batang tebu contoh dipotong untuk di analisa (BUKAN hanya untuk parameter nilai Brix dan Pol semata, tetapi juga pengamatan parameter produksi lainnya, termasuk perilaku agronomis batang tebu contoh – bakal primordial bunga , hama pentyakit dsb), dilakukan setidak-tidaknya dalam  3 periode (15 harian) saja. Apakah ini cukup ?  sebenarnya tidak ! Bisakah pengertian Masak ini dipresentasikan dengan HandRefracktometer ?

 

Huruf B, memberi pengertian Bersih (dari unsur non tebu, non gula), dinyatakan dalam persen bobot kotoran, yang umumnya meliputi Tebu Muda (Sogolan), Pucuk Tebu (Momol), Daun Kering (Daduk), Akar, Tanah dan kotoran non tebu lain (kadang terikut batang pisang, pohon papaya, bahkan kayu penguat bak truck). Persen kotoran diharapkan lebih kecil dari 5 %, yang biasanya diamati melalui Analisa Kebersihan tebu (Analisa Lori atau Analisa Truck), seberapa banyak analisa kebersihan ini dilakukan dan oleh sebaiknya oleh siapa, tata cara sesuai baku pemilihan contoh ideal dapat dilakukan, dan pelaksana analisa mestinya ya konsumen tebu, yaitu Bagian Pengolahan PG. Pengamatan visual selama 24 jam yang dilakukan dapat menimbulkan rasa tidakpuasan  dari pemilik tebu.

 

Huruf S, memberi pengertian Segar – kesegaran tanaman sejak di potong sd di giling,  (“cut to crush  ∞ retention time”), tidak lebih dari 36 jam ! Uniknya ada peraturan kesegaran mencantumkan angka 24 jam bahkan 12 jam ! Sayangnya pencatatan data “Segar” ini tidak pernah tertulis dengan baik, seyogyanya dilengkapi dengan data yang akurasinya dapat dipertanggungjawabkan !

 

TEBU mbs

 

Terminolgi “MBS” pada saat ini merupakan salah satu senjata ampuh untuk memperoleh apresiasi setinggi-tingginya ! Di sisi lain,  tidak mudah mempersiapkan BBT (Bahan Baku Tebu) dengan kriteria MBS apabila kondisi kebun itu sendiri Tidak Layak Tebang ! Tahapan mempersiapkan Kebun Layak Tebang, tidak semudah membalik tangan, namun merupakan kesinambungan rangkaian proses produksi sejal penyiapan lahan, bibit di tanam , pemeliharaan sampai benar-benar kebun siap untuk proses terakhir, panen ! Bukan hanya bebas daduk semata.

 

The following two tabs change content below.

Gendhis Pethak

Cane Agronomist at LPP Yogyakarta

(komentar anda cermin pribadi anda, mari budayakan komentar dengan bahasa yang baik)
Untuk berdiskusi, tulis komentar dengan login di akun FB anda :

Categories

Web Stats


institutions and administrations